Review Novel Satu Ruang , Cinta yang Hidup

 

Review Novel Satu Ruang , Cinta yang Hidup
Secangkir Kopi dan Pencakar Langit (2106) serta Satu Ruang (2017)

KuReview – Alhamdulillah, kemarin senin sebenarnya saya sudah selesai membaca buku Satu Ruang karya Mbak Aqessa Aninda. Bahkan, bisa dibilang, saya sendiri masih belum menyadari kalau Mbak Aqessa ini anak IT yang suka coding dan problem solving. Yang kebiasanyaannya lebih banyak berlogika ria daripada berimajinasi. Sungguh tak ada penyesalan sampai sekarang membaca novel satu ruang, setelah sebelumnya saya selesai membaca novel Secangkir Kopi karya Mbak Aqessa juga.
Bahkan sebelumnya saya sudah mereview juga di Baca Novel Romance Pertama, Secangkir Kopi dan Pencakar Langit. Walau bisa dibilang antara review dan uneg2 saya ini masih abstrak sekali mengenai novel tersebut. Karena, saya memang masih awal mengenai novel bertemakan kisah cinta. Kebanyakan, memang novel yang saya baca itu temanya kalau bukan sejarah, fiction, crime atau true story.
Mungkin disini saya akan memberikan uneg-uneg lagi mengenai novel kedua mbak Aqessa tersebut.

1. Alur Cerita Menggemaskan

Lebih suka mengatakan menggemaskan layaknya kucing saya yang ingin rasanya saya cubit dan pelukin dari pada kata ‘sulit ditebak’. Karena memang dari awal ,novel ini mustahil buat ditebak bagi saya. Apalagi, ketika para tokoh dipertemukan dalam lingkup yang cukup lumrah dan kadang pernah saya temukan dalam kehidupan saya.
Seperti pertemuan Satrya dan Sabrina. Berawal dari pekerjaan bukan ? Bahkan, ketika kisah cinta Satrya dan Kinan , sempat membuat saya kembang kempis, deg-degan, dan ingin berkata kasar sama si Satrya. Masak sama Kinan masih enggak mau? Lupa apa yang dikatakan si Sabrina kah? Bahwa kadang orang lain membutuhkan kita untuk bisa bangkit. 
Bahkan saya kira, cerita petualangan menemukan cinta Satrya akan berakhir disini. Tapi ternyata tidak. Pantas saja di buku tersebut dituliskan “Ini bagian pertama dari kisah klasik diantara 4 orang yang saling mencari , ada 3 pintu hati yang terketuk, 2 orang yang kehilangan dan terjebak dengan bayangan masa lalu serta 1 pertanyaan tentang berbagi ruang”.

2. Deskripsi Tokoh

Saya kaget bukan kepalang. Saya baru menyadari jika si Satrya ini adalah pri berkacamata, dibuku Secangkir Kopi, saya tidak merasakan atau mengimajinasikan si Satrya ini berkacamata. Tapi baru pada novel Satu Ruang terasa jika Satrya ternyata berkacamata. What the ? Ini akunya yang baru nyadar atau gimana? Sempat tertawa tersendiri ketika beru ngeh, Satrya pakai kacamata ketika digambarkan di novel Satu Ruang.
Bukan hanya itu saja, saya sampai hanyut akan para tokoh. Memahami perkataan Satrya bahwa kami para pria brengsek dengan cara masing-masing. Seolah waktu sendiri yang bisa menggambarkan, bagaimana sifat-sifat para tokoh dengan terus membaca novel tersebut. Seolah, orang -orang seperti mereka banyak ditemukan didunia ini.

3. Kata Asing

Yup, bisa dibilang karena memang aku jarang baca fashion, aku seolah olah susah untuk berimajinasi. Terutama ketika penulis menyebutkan banyak merk fashion serta pakaian para tokoh di Novel Satu Ruang. Ya, sampai sekarang pun aku masih belum paham seperti apa baju “Memakai blus berpotongan H-line ..” Serius, saya sampai sekrang tidak bisa mengimajinaskan seperti apa blus berpotongan H-Line yang pernah dipakai Sabrina?
Bukan sekali dua kali, tapi beberapa kali sya bingung pakaian para tokoh ini seperti apa sih? Apakah kehidupan dijakarta berbeda sekali ama kehidupanku? haha.

4. Pelajaran Menaklukkan Wanita

Jelaslah bagi saya sendiri ini seperti harta karun. Satrya, Ghilman, Radhi dan Abi secara gamblang ngasih beberapa tips ke saya gimana cara naklukkan wanita. haha. Bisa dibilang, mereka memberikanku beberapa gambaran cara mendekati atau berinteraksi kepada wanita. Apalagi authornya sendiri juga seorang wanita.
Jadi layak dicoba bukan? tips dan trik dari para kaum adam yang sukses memikat Athaya, Kinan, Sabrina ? Walaupun memang, ada kalanya cara-caranya agak gila. Ngasih nomor telepon pakai angka biner. Itu gimana caranya dikonfesi biner ke angka biasa tanpa converter? 

5. Akhir yang tak terduga

*awas spoiler*
Saya sendiri sempat menebak kalau si Satrya bakal sama si Sabrina mengingat Satrya pernah berkata bahwa dia dan Kinan akan menjadi ‘teman’ aja. Namun, kenyataannya di epilog berkata lain. Bahwa Kinan masih menghilang, Satrya yang berusaha mengejar dan mencari jejaknya dan Sabrina yang mulai mengenal Abi kesekian kalinya. 

6. Cinta Yang Hidup

Benar, cinta yang aku rasa sungguh berbeda. Apalagi dari sudut pandang si Satrya dimana dia memperhatikan hal-hal kecil dari seorang wanita. Serta tidak serta merta melupakannya. Menyimak karena benar-benar tertarik. Bukan karena PDKT Bullshit atau sok-sok an tau. Tapi karena benar-benar dari hati. Cinta yang perlu waktu lama untuk dilupakan, tapi layak diperjuangkan walaupun pahit rasanya.
Bagian Uneg-uneg :
Jujur, kadang aku kasihan banget sama si Satrya, udah 2 kali ditinggal nikah berharap di Satu Ruang bakal dapet pasangan. Eh, ternyata belum. Tapi, andaikata saya boleh memilih. Saya berharap Kinan bisa mendapatkan Satrya dan Satrya mendapatkan Kinan. Kenapa? Karena Satrya pernah merasakan ditinggal buat nikah ama cewenya tapi bisa hidup sampai sekarang serta dia bisa memahami Kinan, walau tidak sepenuhnya. Satrya yang melebihi Prana tapi bukan Prana. Walaupun mungkin jika aku sendiri jadi Satrya, ak juga bakal susah menerima Kinan. Yang sama masih menyimpan sedikit ruang untuk orang lain. Tapi jika bersama Sabrina? sepertinya tidak. Alasannya? Tidak ada alasan. haha
Yah, mungkin cuman itu aja yang bisa saya bagikan pada Review Novel Satu Ruang, Cinta yang Hidup kepada teman-teman. Ini saya sendiri juga masih belajar untuk mereview novel – novel yang telah aku baca. Mohon Maaf jika mungkin ada yang tidak berkenan, kebanyakan spoiler, reviewnya garik atau apa. Tapi saya punya kesimpulan.

Kesimpulan :

  1. Novel ini layak dibaca untuk mereka yang rindu akan jatuh cinta, mencintai. 
  2. Kita akan diajarkan arti dari sebab akibat. Seperti saat dimana ada seorang tokoh yang akan bunuh diri. Betapa hebatnya Sholat Tahajud sehingga doi tidak lagi mimpi buruk
  3. Nasehat untuk segera menikah diumur 27-30an!
Oh ya, jangan lupa untuk membaca artikel yang sebelumnya pernah aku tulis ya! yaitu review novel sebelumnya, Secangkir Kopi dan Pencakar Langit!
Link Review yang menurut aku bagus dari Vemale :
Terima Kasih,
Naufaldi Rafif S
Malang, 18:14 19 Desember 20107

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *